Ahjussi, I Love You [Part 2]

Judul : Ahjussi, I Love You

Kategori : Romance

Cast :

Im Yoona

Lee Donghae

Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Jung Soo Yeon a.k.a Jessica

 

 

Yoona PoV

“Dan satu lagi Im Yoona, jangan memanggilku paman. Aku ini bukan anak kandung keluarga Kim. Jadi kta tidak ada hubungan keluarga” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Apa..” kataku kaget.
Apa maksudnya dia bukan anak kandung keluarga Kim? Dia pasti bercanda denganku.

“Kenapa? Apa ibumu tidak menceritakannya? Aku ini anak keluarga Lee. Tapi karena setiap anak laki-laki yang dilahirkan keluarga Lee pasti meninggal, akhirnya aku dititipkan ke keluarga Kim. Namaku Lee Donghae. Aku ini baru berumur 22 tahun, jadi jangan panggil aku paman. Rasanya usiaku tua sekali” kata pamanku ini yang ternyata tidak ada hubungan apa-apa denganku.

“Jadi aku harus memanggilmu apa? Tetap saja, ibuku menganggap kau adalah adiknya jadi aku akan tetap memanggilmu paman” kataku menggodanya.

“Kau.. Sama saja keras kepala seperti ibumu” katanya sambil berlalu dari hadapanku.

“Paman.. Paman Donghae” teriakku menggodanya.

“Ya!! Kau..” protesnya, namun aku sudah buru-buru masuk kedalam.

Dikamar..

Ibu.. Jadi dia bukan pamanku? Aku harus memanggilnya apa? Pantas saja, waktu pertama aku melihatnya ada perasaan aneh dalam hatiku. Ibu benar dia memang tampan. Tapi kata bibi Jang, dia berubah menjadi dingin karena kau.

Donghae PoV

Sejak kedatangan gadis itu, perasaan hatiku menjadi tidak menentu. Setiap berdekatan dengannya, aku menjadi salah tingkah. Karena itu aku selalu menutupinya dengan cara berkata kasar padanya. Namun senyuman gadis itu benar-benar selalu terbayang dipikiranku.

Paman.. Lucu sekali dia memanggilku paman. Apalagi ekspresi wajahnya saat aku beritahu kalau aku ini bukan paman kandungnya. Matanya yang bulat semakin membesar.

Kakak.. Tugasku menjaga keluargamu sudah selesai. Walaupun kau tidak kembali kesini, tapi Im Yoona anakmu sudah kembali kekeluarga ini. Aku akan melanjutkan impianku sebagai penyanyi.

Keesokan paginya..

“Paman.. Sedang apa kau mengendap-endap disana?” tanya Yoona yang mengagetkan aku.

“Ya!! Aku bilang jangan memanggilku paman, kau ini” kataku dengan kesal.
“Mau kemana sepagi ini?” tanyanya lagi.

“Bukan urusanmu. Sudah masuk sana, pagi-pagi begini sudah mengganggu orang saja” kataku masih kesal.

“Paman, apa kau akan pergi? Apakah ini karena kehadiranku” tanya Yoona dengan ekspresi sedih.

“Kau ini, bukannya aku sudah bilang ini bukan gara-gara kau. Aku pergi karena aku akan meneruskan impianku sebagai penyanyi. Kalau aku tetap tinggal disini, mana bisa aku jadi penyanyi” jawabku panjang lebar.

“Benarkah, paman bisa bernyanyi? Wah.. Kalau begitu aku akan menjadi fans no. 1 mu” kata Yoona sumringah.
Gadis ini, cepat sekali ekspresinya berubah. Dia semakin cantik kalau tertawa seperti itu. Aku semakin yakin harus meninggalkan tempat ini secepatnya.

“Baiklah kalau begitu, mulai hari ini kau adalah fansku. Jangan memanggilku paman, mengerti?” kataku yang salah tingkah melihat gadis ini.

“Hwae.. Aku akan memanggil paman dengan nama Hwae” katanya sambil tersenyum menggodaku.

“Aissh.. Anak ini main panggil seenaknya saja” kataku yang pura-pura kesal.

“Baiklah karena kau akan menjadi penyanyi, aku ijinkan kau untuk ke Seoul. Tapi setidaknya pamit dulu pada nenek” kata Yoona yang mulai mengaturku.

“Ya!! Kau ini, bukan karena kau adalah fans no. 1 ku terus bisa seenaknya mengaturku” jawabku protes. Namun Yoona menarik tanganku kembali kedalam rumah.

Sejak kapan aku punya penyakit jantung? Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Sepertinya aku harus memeriksakan kesehatanku begitu sampai Seoul.

Didalam aku lihat ibu yang kaget melihat aku dan Yoona menjadi akur. Tapi terlihat juga senyum mengembang diwajahnya.

“Nenek aku menemukan paman ada diluar rumah lagi mengendap-endap seperti pencuri” kata Yoona dengan senyum jahilnya.

“Ya!! Aku tidak mengendap-endap” teriakku protes. Ibu hanya bisa tertawa mendengar pertengkaran kami lagi.

“Donghae kau mau kemana?” tanya ibu.

“Aku harus ke Seoul, aku akan melanjutkan impianku yang sempat tertunda karena kau gadis tua” kataku.

“Paman.. Bisa tidak kau memanggil nenekku dengan sopan?” tanya Yoona yang kesal dengan panggilan gadis tua itu.

“Nenekmu? Iya, kau betul dia adalah nenekmu. Nenek kandungmu, sedangkan aku bukan siapa-siapa. Harusnya aku bisa lebih sopan memanggil nenekmu” kataku dingin.

“Ibu.. Aku pergi sekarang” lanjutku berpamitan.

Segera kulangkahkan kakiku menuju keluar rumah tanpa mempedulikan panggilan Yoona yang sekarang berusaha mengejarku.

“Paman.. Aku minta maaf, aku sama sekali tidak ada maksud mengungkit masalah itu” kata Yoona dengan nada menyesal.

“Tidak apa-apa, aku tidak marah. Kau benar, aku bukan anak kandung keluarga ini” kataku masih dengan membuang muka sejauh mungkin.

“Paman..” kata Yoona dengan wajah tertunduk.

“Aku senang kita tidak memiliki hubungan darah sedikit pun” kataku sambil mendekatkan wajahku kewajahnya. Dia mendongakkan wajahnya, hingga kini jarak antara kami sangat dekat.

“Maksudmu?” tanyanya dengan wajah kaget bercampur malu karena jarak anatara kami sangat dekat.

“Yoona, aku menyukaimu” kataku sambil tersenyum dan membuat wajahnya semakin merah.

“Aku pergi… Gadis tua jangan merindukanku ya” teriakku saat melihat ibu ada dibelakang Yoona menangis melepas kepergianku.

***

Yoona PoV

“Aku senang kita tidak memiliki hubungan darah sedikit pun” katanya sambil mendekatkan wajahnya kewajahku.

“Maksudmu?” tanyaku dengan wajah kaget bercampur malu karena jarak anatara kami sangat dekat.

“Yoona, aku menyukaimu” katanya sambil tersenyum dan membuat wajahku semakin merah.

Apakah benar yang aku dengar tadi, paman menyukaiku. Atau aku hanya sedang bermimpi? Terus terang aku juga sangat menyukainya. Aku sempat kecewa begitu tahu kalau dia adalah pamanku. Tapi setelah tahu kenyataan kalau dia bukan paman kandungku, aku sangat senang.

Hwae.. Aku juga menyukaimu. Aduh bodohnya aku, aku belum sempat membalas ucapannya tadi. Apakah dia tahu kalau aku juga menyukainya. Tapi apa gunanya saling menyukai, jarak kami sangat jauh.

Sudah sebulan aku disini, melakukan banyak aktivitas untuk membunuh kebosananku. Namun hatiku tetap saja merasa hampa tidak bisa melihat Donghae. Kami memang cukup sering berhubungan lewat telpon. Hanya saja aku merasa tidak cukup sebelum melihat wajahnya.

Saat itu aku yang sedang bosan menuju ruang tengah. Kulihat nenek dengan gelisah memandangi layar tv.

“Nenek, kau sedang apa?” tanyaku basa-basi melihat nenek didepan tv.

“Kata Donghae, hari ini dia akan tampil di tv. Makanya nenek menunggunya dari tadi” kata nenek yang membuatku langsung senang mendengar nama Donghae disebut.

Refleks aku duduk didekat nenek menunggu dan berharap bisa melihat wajah Donghae walaupun hanya lewat tv.

“Ah itu dia, wah tampan sekali Donghae. Benarkan Yoong?” tanya nenek yang hanya kujawab dengan anggukan kepala.

“Itu teman kuliahnya Donghae, namanya Hyukjae. Dia tampan, tapi masih kalah tampan dibanding Donghaeku” kata nenek lagi.

Suara Donghae dan temannya yang bernama Hyukjae ini bagus juga. Donghae juga yang menciptakan lagu yang mereka nyanyikan. Ternyata melihat wajahnya sebentar di tv membuatku makin merindukan Donghae.

Keesokan harinya..

“Oh baiklah.. Ibu akan membawakan pesananmu” suara nenek diruang tengah berbicara ditelpon entah dengan siapa.

“Iya.. Ibu ingat, kau pikir ibumu ini pikun apa?” kata nenek lagi.
Apakah itu Donghae yang menelpon? Kudekati nenek.

“Siapa?” tanyaku sambil berbisik.

“Donghae” kata nenek.

“Aku ingin bicara nek” kataku berharap nenek memberikan telponnya.

“Dia sudah menutupnya, sepertinya dia sangat sibuk dan terburu-buru” jawab nenek yang membuatku kecewa.

“Memangnya paman mau apa nek?” tanyaku penasaran.

“Dia meminta nenek membawakan baju dan beberapa barangnya yang ketinggalan disini” kata nenek santai.

“Biar aku saja nek yang mengantarkan barang-barangnya” pintaku pada nenek.

“Benarkah? Apa kau yakin?” tanya nenek.

“Benar, perjalanan ke Seoul sangat jauh nek jadi biarkan aku yang muda ini yang pergi” kataku setengah berharap.

“Baiklah.. Nenek akan menyiapkan barang-barangnya” kata nenek sambil beranjak menuju kamar Donghae.

Setelah semua barang-barang Donghae siap aku langsung berangkat menuju Seoul. Selama perjalanan aku menjadi sangat gelisah. Apakah Donghae akan senang melihatku nanti. Aku makin tidak sabar. Kucari alamat rumah Donghae, letaknya tidak begitu jauh dari kampus. Suasananya pun nyaman.

Nenek mengatakan kalau Donghae tidak ada dirumah, aku bisa mencari kunci rumahnya yang ada dibawah pot bunga mawar. Akhirnya ketemu juga, kubuka pintu rumah mungil itu. Suasana didalamnya sangat rapi dan teratur. Setelah beristirahat sebentar. Aku menelpon Donghae.

“Hallo..” suara Donghae diseberang sana.

“Hwae.. Kau sedang dimana sekarang?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Ya!! Sopan sedikit bisa tidak, aku ini lebih tua daripada kau” teriak Donghae protes.

“Paman.. kau ada dimana sekarang?” tanyaku lagi dengan suara dilembut-lembutkan.

“Aissh.. Kau ini, lebih baik panggil Hwae saja. Aku lagi distudio rekaman, kenapa kau bertanya?” tanya Donghae ketus.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bilang barang-barangmu sudah diantarkan” kataku sedikit berbohong menyembunyikan keberadaanku.

“Gadis tua itu kenapa harus mengantarkannya sendiri sih” gerutu Donghae.

Dia masih saja memanggil nenek dengan gadis tua. Benar-benar tidak sopan. Dan lebih tidak sopan lagi, dia mematikan begitu saja telpon dariku.

Beberapa jam kemudian..

Cekleekk..

Aku mendengar pintu depan ada yang membuka, karena takut aku mengambil sebuah tongkat yang ada dikamar Donghae. Bersembunyi dibalik pintu. Dan begitu pintu itu terbuka, langsung saja aku memukul kepala orang yang mencoba masuk.

“Aduh.. Aduh.. Tolong jangan pukul aku” teriak laki-laki yang tidak jelas mukanya itu.

“Kau siapa? Kenapa bisa masuk kesini? Kau pencuri ya?” tanyaku setengah ketakutan.

“Ya!! Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau dan kenapa ada dirumah sahabatku Donghae?” teriak laki-laki itu masih dengan menunduk melindungi kepala dan wajahnya.

“Apa? Kau sahabatnya Hwae? Maafkan aku.. Aku kira pencuri” kataku sambil berhenti memukulnya.

“Orang seganteng aku kau sebut pencuri? Kau tidak punya tv ya, aku ini penyanyi terkenal Lee Hyukjae” katanya sambil memegang kepalanya yang sakit karena pukulanku.

“Maaf.. Lagipula kenapa kau tiba-tiba masuk kerumah Hwae?” kataku yang kesal karena dia menyalahkanku.

“Donghae yang menyuruhku kesini. Kata dia ibunya ada disini, dan kau sendiri siapa?” tanyanya kesal namun matanya menatapku dengan tatapan mesum.

“Oh maaf.. Aku adalah keponakan Hwae. Aku kesini mengantarkan barang-barangnya” jawabku.

“Donghae punya keponakan? Kenapa dia tidak pernah cerita, kalau dia punya keponakan secantik kau” tanyanya sambil tersenyum.

“Aku saja baru tahu kalau punya paman setampan Hwae” jawabku asal dan pelan.

“Apa katamu?” tanyanya yang mungkin samar-samar mendengar kata-kataku tadi.

“ah bukan apa-apa. Oh ya, kenapa kau yang kemari, bukannya Hwae?” tanyaku mengalihkan perhatiannya.

“Donghae harus rekaman lagi, jadi aku disuruh kesini untuk mengantar ibunya pulang. Lalu kau dari tadi kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau yang ada disini? ibunya Donghae mana?” tanyanya makin penasaran.

“Aku menggantikan nenek, aku kasihan kalau nenek jauh-jauh kesini hanya untuk mengantarkan barang milik Hwae. Dan aku juga ingin melihat Hwae” jawabku malu.

“Ya!! Sepertinya kalian ini bukan keponakan dan paman? Apa Hwae itu panggilan sayang untuknya?” tanyanya meneyelidiki.

“Bukan urusanmu” kataku kesal.

“Baiklah karena kau sudah disini, bagaimana kalau kita memberikan kejutan untuk paman “Hwae” mu itu?” katanya memberi penekanan pada kata Hwae.

“Caranya?” jawabku.

“Kita ke studio rekaman, dia pasti sangat kaget melihat kau yang datang” katanya memberi ide.

“Baiklah” jawabku dengan senang hati, karena tujuan kesini memang untuk menemuinya.

Hyukjae atau Eunhyuk mengajakku ke studio rekaman, sepanjang perjalanan dia menceritakan tentang Donghae. Aku jadi tertawa geli mendengar kekonyolan-kekonyolan “paman” ku itu.

***

Beberapa menit kemudian..

“Hwae.. Kau sudah selesai rekaman?” tanya Eunhyuk yang masuk sendiri ke studio.

“Hwae? Bagaimana kau tahu nama panggilan itu?” tanya Donghae bingung menatap Eunhyuk yang hanya bisa tersenyum geli.

“Kenapa Hwae, memangnya hanya gadis cantik bermata bulat itu saja yang boleh memanggilmu dengan panggilan Hwae?” tanya Eunhyuk menggoda sahabatnya.

“Maksudmu? Dari mana kau tahu tentang Yoong?” tanya Donghae makin panik.

“Oh jadi Yoong dan Hwae… Aku mengerti YoonHae couple. Kalian yakin hanya paman dan keponakan?” tanya Eunhyuk yang semakin menjadi-jadi.

“Hyuk.. Jawab pertanyaanku tadi” teriak Donghae yang semakin kesal.

“Yoong.. Pamanmu ini tidak sabaran sekali, ayo masuk” panggil Eunhyuk. Yoona pun masuk ke studio itu dengan ragu-ragu. Dilihatnya Donghae dengan wajah kesalnya.

“Kau.. Kenapa bisa ada disini?” teriak Donghae ke Yoona.

“Aku yang menggantikan nenek membawakan barangmu” jawab Yoona dengan tertunduk.

“Kau sebaiknya pulang.. Aku tidak ingin melihatmu ada disini” kata Donghae dengan kasar. Yoona yang kaget lalu menangis dan berlari keluar studio.

Dia tidak menyangka kalau reaksi Donghae saat melihatnya akan marah seperti itu.

“Kau ini, kenapa bersikap kasar dan dingin seperti itu. Dia sudah susah payah dari Mokpo hanya untuk membawakan barang-barangmu” kata Eunhyuk yang kesal melihat Donghae.

“Jangan ikut campur Hyuk” kata Donghae dingin.

“Dia hanya keponakanmu yang berbakti pada paman tidak tahu terimakasih sepertimu” kata Eunhyuk.

“Dia bukan keponakanku, kami tidak ada hubungan darah” kata Donghae yang membuat Eunhyuk kaget.

“Jadi dia..” kata Eunhyuk yang hendak keluar mencari Yoona. namun Donghae menghentikan langkah Eunhyuk memberi isyarat agar dia saja yang mengejar Yoona.

***

Donghae PoV

Aku kaget sekali saat tahu kalau Eunhyuk dan Yoona datang bersama.
Aku pikir ibu yang mengantar barang-barang yang aku minta. Ternyata Yoona yang jauh-jauh datang kesini. Aku merasa bersalah membentak Yoona seperti tadi, tapi aku cemburu melihat dia yang sepertinya akrab dengan Eunhyuk padahal mereka baru bertemu.

Aku mencari Yoona kerumahku, aku yakin dia kembali kesana. Saat masuk kudengar suara tangisan.

“Yoong.. Maafkan aku” kataku yang merasa bersalah membuatnya menangis seperti itu.

“Kau jahat, aku kesini hanya karena aku merindukanmu. Tapi kau malah tidak menginginkan kehadiranku” kata Yoona dengan terisak.

“Bukan maksudku seperti itu Yoong, hanya saja sebaiknya kau jangan kesini lagi” kataku.

“Kenapa? Kau tidak menyukaiku?” tanyanya.

“Justru karena aku sangat menyukaimu Yoong. Aku khawatir kalau kau dekat-dekat denganku aku tidak akan bisa mengendalikan perasaanku” jawabku jujur.

“Apa maksudmu?” tanyanya berhenti menangis.

“Kau itu bukan keponakan kandungku, bahkan kita ini sama sekali tidak ada hubungan darah. Apa kau tidak khawatir kalau aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu?” tanyaku sambil mendekatkan diriku kedekatnya.

“Kau bukan orang seperti itu, aku yakin” jawabnya dengan tersenyum. Senyum yang membuat perasaanku makin tak karuan.

“Kenapa kau yakin sekali padaku Yoong, aku ini laki-laki normal” kataku sambil mendekatkan wajahku kewajahnya. Panas.. Dengan nafas memburu, kucium bibirnya dengan lembut namun lama kelamaan aku semakin terbawa nafsu.

“Hwae.. Apa yang kau lakukan?” teriaknya sambil berontak melepaskan diri dari dekapanku.

Aku benar-benar kaget melihatnya menangis lagi karena perbuatanku tadi. Entah kenapa berada didekatnya membuatku menjadi gila.

“Maaf..” hanya kata itu yang bisa aku ucapkan.

“Baiklah, aku tidak akan kesini lagi. Maaf Hwae, aku merepotkanmu” katanya sambil berlari keluar.

Aku terdiam sejenak, lalu berlari mengejarnya. Untunglah dia belum jauh. Kutarik tangannya hingga kini kami berdiri berhadapan. Dia masih menangis dan tertunduk lemas.

“Yoong, maafkan aku. Aku mencintaimu sejak pertama aku melihatmu. Setiap berada didekatmu, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku ini. Karena itu, aku menyuruhmu pulang. Jangan sampai aku melakukan hal kurang ajar lagi seperti itu” kataku menjelaskan.

“Hwae..” katanya sambil menatapku.
Kuseka air mata diwajahnya, memegang dagu dan menciumnya sekali lagi namun kali ini dengan lembut.

“I love you, Yoong” kataku.

“I love you too Hwae” jawabnya sambil tersenyum.

TBC

Advertisements

14 comments on “Ahjussi, I Love You [Part 2]

    • Iya maaf.. Kurang ngetik TBC nya hahaha…
      Kn jessica nya blm muncul :p

      Bersyukur ada yg suka ff author T.T #terharu #lebay

  1. sumpah liat adegan terakhirnya bikin ngos-ngos-an lari-lari mulu…aw aw donghae ga bisa lepasssss tuh dari yoona jangan bilang abis ini ada jess yang ngehancurin hubungan mereka andweeee…ga ga ga mau jangaaa #lebaymodeon #plakk lanjut thor makin seru aja

    • Larinya kn slow motion jd gk gtu capek kok #halah #abaikan

      Tenang aja, aku juga gk suka kok liat org ketiga 😀

  2. PLEASE……. SAtukan yoonhae..
    oh ya jangan buat couple HAESICA THOR……,
    sekali YOONHAE TETEP YOONHAE.

    jang yoonhae …. daebak
    daebak author

  3. Eonni, FFnya jadi rada-rada mau ke arah sana gitu #otak sudah menuju YADONG
    Haeppanya nafsu bnget sama Yoong eonni.. ya udh deh eonni aku mau baca chap selanjutnya dulu hehe ^^

  4. aduh makin seru..kenapa hae napsu amat ya *yah namanya lelaki normal*plak#
    thor kayakny ada kejangalan ma umurnya hae dch..terlalu muda. Emang yoong disini umurny berapa c?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s