Ahjussi, I Love You [Part 1]

Judul : Ahjussi, I Love You

Kategori : Romance

Cast :

Im Yoona

Lee Donghae

Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Jung Soo Yeon a.k.a Jessica

 

 

Tampak suasana duka menyelimuti rumah mungil itu. Para tamu yang datang untuk melayat silih berganti datang dan pergi. Didalam ada seorang yeoja manis yang terisak-isak namun tetap berusaha untuk tersenyum menyambut para pelayat.

Gadis itu bernama Yoona, dia baru saja kehilangan ibunya. Ayahnya sudah meninggal lebih dulu beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia anak yatim piatu, tidak memiliki keluarga lagi setidaknya sampai minggu yang lalu. Ibunya tiba-tiba bercerita, kalau sebenarnya Yoona masih memiliki seorang nenek dan paman.

Mereka tinggal di Mokpo. Dulu pernikahan ibu dan ayah Yoona tidak direstui kakek Yoona. Namun ibu Yoona sangat mencintai ayahnya Yoona dan rela diusir dari rumah dan tidak dianggap sebagai anak lagi demi memilih ayah Yoona yang hidupnya sangat sederhana.

Kini Yoona bimbang, apakah dia harus menuruti keinginan ibunya untuk tinggal dirumah nenek yang bahkan wajahnya saja tidak pernah dia lihat. Keinginan ibu Yoona hanya agar Yoona bisa menggantikan tugas ibunya untuk berbakti pada nenek.

Kalau bukan karena pesan terakhir ibunya, dia pun dengan enggan berangkat ke Mokpo. Memberi salam sekaligus memberitahu neneknya bahwa ibunya sudah meninggal. Mungkin setelah itu dia bisa meminta ijin neneknya agar bisa tinggal lagi di Seoul melanjutkan kuliahnya.

Setelah beberapa jam perjalanan Yoona tiba di Mokpo. Dicarinya alamat neneknya. Ternyata neneknya adalah orang yang sangat dihormati didesa ini, sehingga dia dengan mudah menemukan rumah neneknya.

Yoona PoV

“Selamat siang..” sapa Yoona pada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk merapikan tanaman.

“Selamat siang, ada yang bisa aku bantu?” tanya wanita paruh baya itu dengan lembut.

“Maaf, benarkah ini rumah keluarga Kim? Aku Im Yoona dari Seoul” kataku sambil tersenyum.

“Benar ini rumah keluarga Kim. Kau Im.. Yoona.. Im? Kau cantik sekali, mirip dengan ibumu” kata wanita itu sambil menangis dan memelukku.

Aku sangat bingung dan sama sekali tidak tahu siapa wanita yang sekarang ini memeluk dan menangis didepanku.

“Maaf anda siapa ya?” tanyaku ragu-ragu.

“Bibi Jang, siapa yang ada diluar?” suara seorang wanita yang lebih tua sedikit dari wanita didepanku ini.

Wanita yang dipanggil bibi Jang ini pun hanya bisa terdiam, melepaskan pelukannya dan memandang wanita yang usianya lebih tua darinya dengan tatapan mata yang penuh dengan isyarat. Tiba-tiba wanita tua tadi menghampiriku, memandang dari atas hingga bawah lalu memastikan pandangannya tidak salah. Setelah yakin wanita tua itupun langsung memelukku dan ikut menangis.

Aku semakin bingung dengan dua wanita tua yang ada didepanku, kenapa mereka hanya menangis dan tidak mengatakan apa-apa. Sampai beberapa menit ada seorang laki-laki yang datang.

“Ya!! Kalian ini gadis-gadis tua kenapa menangis seperti itu? Siapa sih tamu kalian, hingga membuat kalian menangis sesenggukan begitu?” tanya laki-laki yang wajahnya seperti bayi, namun ucapannya sangat kasar.

Dan setelah laki-laki tadi melihatku, dia juga hanya bisa diam memandangku dengan terpaku. Raut wajahnya bisa kulihat kalau dia sangat kaget melihatku. Keluarga yang aneh, apa benar mereka adalah keluarga ibu.

Setelah kebingunganku diluar tadi, kedua wanita paruh baya ini mengajakku kedalam rumah. Disajikannya teh hijau dan beberapa makanan, yang aku pikir terlalu berlebihan.

“Maaf.. Aku kesini hanya untuk memberi salam pada nenek” kataku menghentikan kegiatan dua wanita paruh baya ini.

“Oh.. Maafkan nenek, nenek Cuma bahagia saja bisa bertemu dengan cucu satu-satunya nenek. Melihatmu seperti melihat ibumu, cantik” kata wanita paruh baya yang satunya lagi, beliau adalah nenekku.

“Tidak apa-apa nek, aku juga merasa bersalah baru sekarang bisa kesini. Ibu baru menceritakan tentang nenek seminggu sebelum ibu.. meninggal” jawabku sambil menahan tangis.

“Apa? Ibumu meninggal? Kapan dan kenapa?” tanya nenek yang sangat kaget mendengar putrinya meninggal.

“Ibu meninggal kemarin karena sakit setelah beberapa bulan dirawat dirumah sakit. Maaf kalau aku tahu aku memiliki nenek, aku pasti akan memberitahu nenek” jawabku merasa bersalah karena sekarang melihat nenek sedih.

“Ibumu itu teguh pada pendiriannya, saat masih muda dia rela keluar dari rumah demi pria yang dicintainya. Nenek tidak bisa berbuat apa-apa, alm. Kakekmu sangat keras kepala” cerita nenek.

Aku senang ibu memilih untuk mempertahankan ayah, mereka hidup bahagia sampai melahirkan aku. Walaupun ayah sudah meninggal, ibu masih setia untuk tidak menikah lagi hingga sekarang mereka menyatu lagi dialam baka.

“Ibumu itu bodoh, memilih untuk hidup menderita bersama pria yang ternyata akhirnya meninggalkannya juga” ucap laki-laki yang tadi aku lihat diluar dengan sinis.

“Apa kau bilang? Dengar kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Ibuku sangat bahagia, kau sama sekali tidak tahu. Jadi jangan memberi komentar apapun tentang ayah dan ibuku” kataku kesal mendengar laki-laki ini menjelek-jelekkan ibu.

“Ya!! Kim Donghae, kau itu bisa tidak bersikap lebih manis pada keponakanmu?” teriak nenek pada laki-laki yang ternyata adalah pamanku.

Benarkah dia pamanku? Tapi kata ibu adik laki-lakinya itu sangat lembut, manja dan cengeng. Tapi dia ini? Benar-benar kasar. Memanggil nenek dan bibi jang dengan panggilan gadis tua. Ibu, apakah kau berbohong?

“Kenapa aku harus bersikap manis pada dia? Dia saja baru tahu punya keluarga lain baru sekarang” katanya dingin sambil menatapku tajam. Sungguh tidak sopan.

“Mana aku tahu kalau aku punya nenek dan seorang paman sepertimu” jawabku yang kesal dengan kata-katanya.

“Makanya cari tahu, dasar gadis bodoh” teriaknya tidak mau kalah.

“Apa paman bilang, gadis bodoh? Aku heran kenapa ibu bilang kalau adik laki-lakinya itu lembut, manja dan cengeng. Padahal jelas-jelas adiknya itu kasar, tidak tahu sopan santun” teriakku yang juga tidak mau kalah.

“Ya!! kau..” teriak pamanku ingin memprotes ucapanku.

“Sudah.. Sudah.. Baru bertemu sudah ribut. Bibi jang, tolong antar Yoona kekamarnya. Pasti kau sudah lelah” kata nenek menengahi perkelahian aku dan pamanku ini.

Aku pun diantarkan bibi Jang kesebuah kamar, yang sangat bagus. Kamar itu sangat rapi, dan kulihat ada beberapa foto wanita muda disana. Mungkin bibi Jang mengetahui rasa penasaranku.

“Ini adalah kamar ibumu dulu, nenekmu menyuruhku hanya membersihkan saja tanpa mengubah isi dalamnya. Nenekmu berharap nanti ibumu akan pulang dan menempati lagi kamarnya. Tapi sayang ibumu sudah meninggal dan tidak bisa kembali kesini. Sekarang kau kembali, nenekmu sangat senang” kata bibi Jang.

Aku jadi tidak enak, karena aku hanya berencana menginap dirumah nenek 2 hari saja. Lalu akan kembali, bagaimana kalau nenek tahu aku tidak akan tinggal selamanya disini?

Keesokan harinya..

Nenek memanggilku untuk sarapan bersamanya. Kulihat diatas meja banyak sekali makanan, dan pamanku masih dengan tatapan sinisnya melihatku yang kebingungan.

“Nenek tidak tahu kau suka makanan apa, jadi nenek memasak ini semua” kata nenek menjawab kebingunganku.

“Terima kasih nek, aku bisa makan apa saja kok” jawabku merasa tidak enak.

“Hei Im Yoona, bersyukurlah gadis tua ini memasak banyak makanan untukmu. Aku saja yang sudah tinggal bertahun-tahun dengannya tidak pernah dimasakkan sebanyak ini” kata pamanku dengan kasar.
Aku kesal setengah mati dengannya, kenapa dia memanggil ibunya sendiri dengan gadis tua? Dan sepertinya nenek tidak keberatan sama sekali. Nenek hanya tertawa melihat tingkah laku kami berdua.

Setelah makan aku berjalan ditaman bunga milik nenek, bunga-bunganya terawat dengan baik. Tidak heran ibu juga telaten dengan tanaman, ternyata menurun dari nenek.

“Im Yoona, kau dipanggil gadis tua” kata pamanku yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku.

“Paman, bisakah kau bersikap lebih sopan lagi? Kenapa memanggil ibumu sendiri dengan sebutan gadis tua? Apa kau benar adik ibu yang sering diceritakannya?” tanyaku tak percaya sejak kemarin pamanku ini sikapnya masih seperti ini.

“Ibumu.. Ibumu orang paling jahat didunia ini. Aku sangat membencinya, dan karena kau mirip dengannya maka aku juga membencimu” katanya sinis lalu meninggalkanku sendiri.

Jahat? Ibuku jahat? Ibu yang lemah lembut seperti itu dia bilang jahat? Dia benar-benar orang aneh. Aku semakin yakin untuk tidak tinggal disini.

Diruang tengah..

Aku melihat nenek sedang memilih hanbok saat aku masuk keruang tengah.

“Yoona, kemarilah sayang. Pilihlah hanbok yang kau suka” kata nenek sambil memperlihatkan hanbok beraneka warna dan model.

“Tidak perlu nek, aku punya hanbok kok. Di Seoul hanbokku ada 2 dan belum pernah aku pakai” jawabku menolaknya.

“Besok nenek akan mendoakan ibumu, jadi pilihlah yang kau suka” kata nenek lagi.

“Nek.. Aku juga tidak akan lama-lama disini. Liburanku segera berakhir, aku harus kembali ke kampus” jawabku ragu-ragu.

“Maksudmu, kau tidak akan tinggal disini?” tanya nenek sedih.

“Benar nek, aku akan pulang ke Seoul besok” jawabku.

“Im Yoona..” teriak pamanku, lalu menarik tanganku keluar dari rumah.
Dibawanya aku kehalaman belakang dengan wajah yang sangat menyeramkan. Dia seperti bukan paman yang kemarin aku lihat.

“Lepaskan.. Tanganku sakit” teriakku sambil meronta-ronta.

“Sudah kubilang, ibumu membuat gadis tua didalam sana bersedih selama bertahun-tahun. Baru kemarin aku melihat senyumannya dan semua itu karena kehadiranmu. Sekarang kau mengatakan akan pergi dari sini?” kata paman sambil menatapku dengan tatapan mata tajam yang membuat aku ketakutan setengah mati.

“Aku.. Aku hanya memikirkan kampusku saja” jawabku dengan gugup.

“Kau tenang saja, kau bisa kuliah disini. Gampangkan?” katanya lagi.

“Aku…” kataku sambil ketakutan.

“Jadi, sekarang bilang ke gadis tua didalam sana yang sekarang pasti sedang menangis itu bahwa kau tidak akan kemana-mana” perintah pamanku.

Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya. Rasanya aku seperti dibius oleh tatapan mata dan kata-katanya.

“Baguslah, karena hanya kau satu-satunya keluarga yang dimilki gadis tua itu. Kau harus menjaganya” kata pamanku lagi saat aku beranjak kedalam.

Aku kaget dengan kata-katanya itu, aku adalah satu-satunya keluarga yang nenek miliki? Bukankah masih ada dia, anak nenek?

“Maafkan aku nek, baiklah ayo kita pilih hanbok yang cocok untukku” kataku saat melihat nenek yang memang betul kata paman sedang menangis.

“Benarkah? Ayo.. Pilihlah mana yang kau suka” kata nenek dengan wajah gembira.

Setelah memilih hanbok untukku, aku menemui bibi Jang. Aku penasaran dengan kata-kata paman tadi. Kulihat bibi Jang sedang ada didapur.

“Bibi Jang..” kataku.

“Oh kau Yoona, ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” tanyanya lembut.

“Itu.. Kenapa paman selalu menyebut nenek dengan panggilan gadis tua?” tanyaku penasaran.

“Donghae itu senang bercanda. Dulu waktu ibumu masih tinggal disini, dia sangat dekat dengan ibumu. Ibumu mengajarkan mana yang baik dan buruk pada Donghae. Mereka juga selalu bermain bersama, sampai suatu hari ibumu memutuskan untuk keluar dari rumah mengikuti ayahmu. Donghae kecil sangat marah, sampai-sampai menangis seminggu lebih. Setelah itu dia tidak pernah lagi mau mendengar nama ibumu disebut. Dan sikapnya berubah seperti itu” jelas bibi Jang.

Ternyata paman sangat menyayangi ibu, sama seperti ibu yang menyayanginya. Pasti dia sangat terpukul, sampai membenci ibu dan aku seperti itu.

“Lalu tentang..” aku urungkan niatku bertanya lebih lanjut.

***

Keluarga Kim sedang makan dengan tenang, sampai Donghae mulai membuat suasana tenang menjadi kacau.

“Ya!! Gadis tua, sekarang cucumu itu sudah tinggal disini. Tugasku disini sudah selesai, besok aku akan ke Seoul melanjutkan cita-citaku” kata Donghae.

“Donghae, kenapa kau tidak mau tinggal disini sih? Apakah kau masih mau meneruskan keinginanmu menjadi penyanyi itu? Tinggallah disini, temani ibu” kata nyonya Kim menasehati Donghae.

“Aku berjanji menjaga keluarga ini sampai kakak pulang, karena anaknya ada disini dan akan tinggal disini berarti tugasku selesai” katanya lagi sambil meninggalkan ruang makan. Yoona mengikutinya keluar dan berhenti didepan kamar Donghae.

“Apa karena aku, paman mau pergi dari sini? tanya Yoona merasa bersalah.

“Kau pikir aku pergi karena kau? Seperti kataku tugasku hanya menjaga keluarga ini sampai kakakku pulang dan sekarang kau akan tinggal disini. itu berarti tugasku selesai” katanya lagi masih dengan tatapan jauh kesana.

“Paman..” kata Yoona.

“Dan satu lagi Im Yoona, jangan memanggilku paman. Aku ini bukan anak kandung keluarga Kim. Jadi kta tidak ada hubungan keluarga” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yoona.

“Apa..” kata Yoona kaget.

TBC

Advertisements

15 comments on “Ahjussi, I Love You [Part 1]

  1. kyaaa lanjut thorr penasaran ini partnya smpe berapa #hehe soalnya aku sebenernya sebel liat tulisan ”tbc” bikin asmaku kambuh #lebay #plakk ga kok thor becanda…figthing!

  2. huft, dikira Yoona sama Hae saudaraan, ternyata Hae bukan paman kandungnya Yoona.. berarti ada peluang (?) buat YoonHae jadian keke~ *eh
    Gadis tua? ckck.. dasar Hae manggilnya sopan benerrr =3=

    next part ditunggu, keep writing! ._.

    ah ne, annyeong aku readers baru-mu 😉

    • Welcome.. #narihulahula

      Liat aja ya kisah selanjutnya 😀
      Iya si Hae jd kasar gr2 author tolak cintanya #plakkk #abaikan 😀

      Makasi ya, udh mw baca ff gaje yg ada disini 😀

  3. Eonni.. donghae jadi ahjussi ya?
    meskipun bkn ahjussi kandung.. ko kata2nya kasar bnget..
    ya udh deh mau baca chap berikutnya dulu hehe 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s